Geger Harta Karun 30.000 Ton Emas Banten, Riwayat Kejayaan yang “Dirampok” Kolonial

Ria Damayanti

Maret 1, 2026

3
Min Read
Geger Harta Karun 30.000 Ton Emas

JAKARTA – Sejarah pertambangan Indonesia menyimpan catatan mencengangkan yang kembali menjadi sorotan. Jauh sebelum hiruk-pukuk Freeport di Papua, wilayah Cikotok, Banten, pernah menggegerkan dunia dengan penemuan cadangan emas raksasa mencapai 30.000 ton. Namun, alih-alih memakmurkan rakyat lokal, “durian runtuh” ini justru menjadi ladang eksploitasi besar-besaran oleh pemerintah kolonial Belanda.

Ekspedisi Menembus Belantara Banten

Kisah ini bermula dari desas-desus yang menghantui telinga pejabat kolonial di Batavia (sekarang Jakarta). Kabar burung mengenai kandungan emas di selatan Banten memicu pemerintah Belanda untuk bertindak medis. Pada tahun 1919, sebuah tim peneliti geologi di bawah komando W.F.F Oppenoorth diberangkatkan.

Perjalanan tersebut bukanlah tamasya. Tim Oppenoorth harus menyusuri hutan lebat Jawa yang perawan, membuka jalan, hingga menggali terowongan-terowongan eksplorasi dari titik awal di Sukabumi.

  • Jarak Strategis: Hanya berjarak 200 km dari pusat kekuasaan di Batavia.
  • Investasi Besar: Pemerintah kolonial menggelontorkan dana hingga 80.000 gulden per tahun (setara miliaran rupiah saat ini) untuk biaya penelitian.
  • Infrastruktur Masif: Hingga tahun 1928, sebanyak 25 terowongan berhasil menembus perbukitan terjal dan lembah sempit di Cikotok.

Temuan Fantastis: 30.000 Ton Emas Terbongkar

Maret 1928 menjadi titik balik sejarah. Rumor yang selama ini dianggap khayalan terbukti nyata. Laporan harian Sumatra-bode edisi 2 Maret 1928 mencatat sebuah angka yang membuat mata dunia terbelalak: 30.000 ton emas terdeteksi di bawah tanah Cikotok.

Eksplorasi tidak berhenti di situ. Lima tahun kemudian, pada 1933, laporan de Locomotief menyebutkan angka yang jauh lebih gila. Area penambangan meluas hingga 400 $km^2$ dengan potensi emas mencapai 61.000 ton yang bernilai 3,68 miliar gulden.

“Selama pekerjaan, sering ditemukan bongkahan emas dengan berat beragam, bahkan ada yang mencapai 126 gram dalam sekali temukan,” tulis laporan de Indische Courant (25/7/1939).

Ironi “Safe Haven”: Asing Kaya, Pribumi Merana

Keuntungan melimpah ini jatuh ke tangan perusahan Belanda, NV Mijnbouw Maatchappij Zuid Bantam. Pabrik pengolahan berkapasitas 20 ton per hari dibangun, namun tetap kewalahan menampung derasnya hasil bumi yang dikeruk dari tanah Banten.

Namun, di balik gemerlap emas tersebut, terselip tragedi sosial. Kendati pemerintah kolonial menjanjikan kesejahteraan, kenyataannya:

  1. Monopoli Keuntungan: Seluruh hasil tambang dikapalkan untuk memperkuat kas kerajaan Belanda.
  2. Kemiskinan Pribumi: Penduduk lokal hanya menjadi penonton atau buruh di tanah mereka sendiri tanpa merasakan dampak ekonomi yang signifikan.
  3. Eksploitasi Lahan: Hutan dibabat habis demi akses logistik dari Rangkasbitung hingga Pelabuhan Ratu.

Akhir dari Sebuah Era

Pasca-kemerdekaan, tambang legendaris ini dinasionalisasi dan akhirnya dikelola oleh PT Aneka Tambang (Antam) sejak 1974. Namun, setiap kejayaan ada masanya. Setelah hampir satu abad dikeruk, cadangan emas Cikotok dinyatakan habis.

Operasi tambang resmi ditutup pada tahun 2005. Kini, Cikotok hanya menjadi lembaran sejarah tentang betapa kayanya bumi Banten, sekaligus pengingat pahit tentang era di mana kekayaan alam Indonesia menjadi tumpuan kemakmuran bangsa asing.

Tinggalkan komentar

Related Post